Bismillah.
Assalamuallaikum Wr.wb.
Berjumpa lagi dengan saya Wira Takiya, di blog saya yang amat sangat sederhana ini (namun bermanfaat) hehe.
Pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan artikel tentang Demografi Desa Cisaat, Kec. Waled, Kab. Cirebon, Prov. Jawa Barat, Indonesia. :-)
Mungkin banyak di blog-blog lain yang sudah memposting artikel Demografi desa Cisaat ini. Namun kali ini saya akan mengulasnya kembali dengan sedikit berbeda., bahkan lebih detail dan terperinci.
Bagi agan-agan yang membutuhkan artikel tentang Demografi Desa Cisaat, bisa meng'copy artikel nya di bawah ini.
Oke langsung saja yah gan ini dia artikel mengenai Demografi Desa Cisaat. Semoga bermanfaat bagi sesama. :-)
================================================
A. Sejarah dan Data Monografi Desa Cisaat
Pada abad
XIV daerah ini bernama Tresna yang merupakan pintu keluar masuknya para ki
gedeng seperti Ki Gedeng Palimanan dan Ki Gedeng Pasawahan yang hendak berburu
rusa dan menikmati pemandangan pegunungan. Oleh karena daerahnya sering
dilewati para pemburu. Ki Buyut Tresna dikenal dengan nama Ki Panderesan.
Ki Gedeng
Pasawahan alias Ki Makeru di samping senang berburu, ia kerapkali memusuhi Mbah
Kuwu Sangkan di mana keduanya sama kuat, baik ketika bertempur di atas gunung
maupun bertarung di atas air (toya gamana giri gamana, bhs. Cirebon). Ki Makeru
tidak segan-segan melakukan tipu daya dengan cara yang licik, dan secara
tiba-tiba memukul dari belakang, sehingga Mbah Kuwu Sangkan dengan ketinggian
ilmunya semula terkesan tidak sungguh-sungguh melayani setiap pertarungan.
Ki Makeru
terkenal sakti mandraguna, ia memiliki berbagai ilmu hitam meringankan tubuh,
masuk lubang kecil, ‘ilmu mencala putra mencala putri’ untuk menipu
jalasutra, sehingga ia selalu menginginkan pertarungan dilakukan di atas gunung
atau di atas air. Mbah Kuwu Sangkan akhirnya meladeni setiap keinginan Ki
Makeru, di mana dengan kepandaian ilmunya beliau mengetahui kelemahan musuhnya,
apalagi pengikut Ki Makeru sebagian besar telah ditundukkannya. Segala cara
ditempuh Ki Makeru dengan mudah dipatahkan beliau, meskipun bukan tandingan
Mbah Kuwu Sangkan, Ki Makeru tetap tidak mau tunduk bahkan oleh karena merasa
dipermalukan ia menghilang (nghiang, bhs. Sunda), tidak mau masuk agama
Islam.
Setelah
melakukan pertempuran, Mbah Kuwu Sangkan bermaksud meninggalkan Pasawahan untuk
beristirahat sambil menikmati air pohon enau (lahang, bhs. Sunda) kesukaannya
di Panderesan. Sangat disayangkan air lahang kesenangannya tidak tersedia
sehingga Mbah Kuwu Sangkan kecewa dan berkata kepada Ki Panderesan, apabila
hendak menyadap aren bacakan Syahadat tiga kali.
Sekembalinya
Mbah Kuwu Sangkan ke Cirebon, Ki Panderesan segera membuat lodong dari bambu
untuk menyadap aren. Sebagaimana dipesankan Mbah Kuwu Sangkan, ketika akan
memasangkan lodong Ki Panderesan tidak lupa membaca Syahadat tiga kali. Sungguh
ajaib ketika lodong diturunkan esok harinya, ternyata lodong itu tidak berisi
air lahang melainkan emas dan intan.
Ki
Panderesan sangat berbahagia dan gembira, ia bernadzar ingin makan bersama Mbah
Kuwu Sangkan serta pengikutnya yang akan singgah kembali di Panderesan, untuk
menghormati tamunya itu, Ki Panderesan menyediakan berbagai hidangan, hingga
tanpa disadari ayam yang sedang mengeram pun dipotong. Ketika Mbah Kuwu Sangkan
menikmati hidangan itu, beliau tersenyum dengan hati yang tak tega oleh karena
panggang ayam yang dihidangkan itu berasal dari induk yang sedang mengeram. Tak
lama kemudian panggang ayam itu berubah, hidup kembali seperti semula.
Ketika akan
kembali ke Cirebon, Mbah Kuwu Sangkan mengajak Ki Panderesan pergi ke Cirebon.
Ketika ditanyakan kepada Mbah Kuwu Sangkan apakah hewan-hewan peliharaan
seperti ayam, bebek, kambing dan lainnya perlu dibawa ke Cirebon? Mbah Kuwu
Sangkan mengatakan tidak perlu. “Lihat saja nanti apa yang akan terjadi,”
pintanya. Dan tak lama kemudian semua hewan berubah menjadi ular.
Oleh karena
itu, daerah ini dahulu terkenal dengan ular-ularnya yang besar.Dalam perjalanan
ke Cirebon, pusaka cis milik Mbah Kuwu Sangkan terjatuh ke sungai, para
pengikut Mbah Kuwu Sangkan segera menambak sungai dengan pasir (keusik – bhs.
Sunda). Setelah itu airnya ditimba (diparak – bhs. Sunda) beramai-ramai hingga
kering (saat – bhs. Sunda), akan tetapi yang diketemukan hanya kerangkanya
saja. Sungai tempat jatuhnya cis milik Mbah Kuwu Sangkan itu dikenal dengan
nama ‘Parakan Keusik’, dan daerah sekitarnya disebut ‘Cisaat’ hingga sekarang.
Ki Buyut
Cisaat yang diketahui diantaranya adalah :
- Kasep Sabale
- Narum
- Mangku Jaya
- Mangku Raga
- Sela Merta
- Tuan
- Irodat
- Merta Gati
- Nursimah
- Udin
- Surangga Bima
- Pabunian
- Nampa
- Sarif
- Kembar
- Kesem
- Katijem
- Lulut
- Leuleut
- Kenanga
- Kenangi
Adapun
Pemegang jabatan Kuwu Desa Cisaat adalah sebagai berikut :
No
|
Nama
|
Jabatan
|
Tahun Jabatan
|
1
|
A.Tambiyah
|
Pejabat Kades
|
1982 – 1985
|
2
|
M. Mas’un.
B
|
Kades
|
1985 – 1993
|
3
|
Muhandar
|
Pejabat
Kades
|
1993 – 1995
|
4
|
Odi Odadi
|
Kades
|
1995 – 1999
|
5
|
Dasdji
|
Pejabat
Kades
|
1999 – 2001
|
6
|
Tirsa
|
Plh. Kades
|
Sept – Nop 2001
|
7
|
Dasdji,
SIP
|
Kuwu
|
2001 – 2011
|
8
|
Raswan
|
Kuwu
|
2011 – 2015
|
Data Monografi Desa Cisaat, Kec.Waled, Kab.Cirebon
Jumlah Penduduk Menurut Jenis kelamin
|
|||||
1.Jenis
kelamin
Laki-laki : 2449 orang
Perempuan
: 2254 orang
Jumlah : 4703 orang
Kepala kel. : 1284 orang
2.Kewarganegaraan
WNI = Laki-laki : 2449
Perempuan : 2254
|
|||||
Jumlah Penduduk menurut Agama
|
|||||
1.Islam : 4700 orang
2.Kristen :
3 orang
|
|||||
Jumlah Pendidikan menurut usia
|
|||||
Kelompok pendidikan
|
Kelompok kerja
|
||||
00 – 03
04 – 06
07 – 12
13 – 15
16 – 18
19 keatas
|
295 0rang
232 orang
464 orang
255 orang
251 orang
3.206 orang
|
10 – 14
15 – 19
20 – 26
27 – 40
41 – 56
57 ke atas
|
394 orang
404 orang
487 orang
1.059 orang
939 orang
1.420 orang
|
||
Jumlah Pendidikan Menganut Pendidikan Lulusan
|
|||||
Pendidikan Umum
|
Lulusan Pendidikan Khusus
|
||||
PAUD
TK
SD
SMP
SMA
Akademi (D1-D3)
Sarjana (S1-S2)
|
32 orang
4 orang
1314 orang
363 orang
258 orang
18 orang
20 orang
|
Pondes
Madrasah
|
27 orang
187 orang
|
||
Jumlah Penduduk Mobilitas
|
|||||
Lahir
|
Kematian
|
||||
Laki –
laki 48 orang
Perempuan 50 orang
Jumlah 98 orang
|
Laki –
laki 23 orang
Perempuan 24 orang
Jumlah 47 orang
|
||||
Status & Tanah Kas Desa
|
|||||
Status
|
Tanah Kas Desa
|
||||
Sertifikat hak pemilik 61 orang
Sertifikat hak guna usaha HGU 1 orang
|
Tanah bengkok
Tanah titisan
Tanah pangonan
Tanah lainnya
|
||||
Umum
|
Perangkat Desa
|
Pembina RT/RW
|
|||||||||||||||||||||||
-Luas Desa
-Sebelah
utara
-Sebelah
selatan
-Sebelah
barat
-Sebelah
timur
|
166.458 ha
Ds.Cangkuang
Ds.Ciuyah
Ds.Jatipiring
Ds.cibogo
|
-
Sekertaris desa
- kepala
Dusun
|
5 orang
4 orang
|
-Jumlah RT
-Jumlah RW
|
25 orang
6 orang
|
||||||||||||||||||||
Kondisi Geografis
|
ORBITASI ( Jarak dari pusat pem.Desa)
|
||||||||||||||||||||||||
-
Ketinggian tanah dari permukaan laut
-
Banyaknya curah hujan
- Fotografi
(dataran rendah,tinggi)
|
24 mdl
9 bulan
Dataran
rendah
|
- Jarak
dari pusat Pem.kecamatan
- Jarak
dari ibu kota kabupaten
- Jarak
dari ibu kota provinsi
- Jarak
dari ibu kota Negara
|
6 km
35 km
172 km
245 km
|
||||||||||||||||||||||
Pajak Bumi Masyarakat
|
|||||||||||||||||||||||||
- Jumlah wajib
pajak
- Jumlah
SPPT
-
Ketetapan / Target
-
Realisasi
|
1547 orang
1547 orang
Rp.
21.067.562
Rp.
21.067.562
|
||||||||||||||||||||||||
Bidang Pembangunan
|
|||||||||||||||||||||||||
Agama
|
Kesehatan
|
||||||||||||||||||||||||
Sarana Peribadahan
- Jumlah
Masjid 1
- Jumlah
Mushola 6
- Jumlah
Gereja -
|
-
Rs.Pemerintahan
-
Rs.Swasta
-
Puskesmas
- Klinik
- Apotik
|
||||||||||||||||||||||||
Perdagangan & Jasa
|
Perkoprasian
|
||||||||||||||||||||||||
Perdagangan
|
Jasa
|
-Lumbung
Desa
|
1
|
||||||||||||||||||||||
- Pasar
desa
- Toko
- Warung
- Mini
Market
|
-
10
50
-
|
- Bengkel
- Penjahit
- BANK
- Notaris
|
4
3
-
-
|
||||||||||||||||||||||
Pendidikan
|
Perumahan
|
||||||||||||||||||||||||
Pendidikan
Umum
- PAUD
- TK
- SD
- SMP
- SMK
- Akademi
-
Universitas
- Madrasah
|
- Rumah
permanen
- Rumah
semi permanen
- Rumah
non permanen
|
414 rumah
273 rumah
171 rumah
|
|||||||||||||||||||||||
Peternakan
|
|||||||||||||||||||||||||
- Kambing
- Sapi
biasa
- Kerbau
|
137 ekor
5 ekor
56 ekor
|
||||||||||||||||||||||||
Perkebunan
|
|||||||||||||||||||||||||
-Tebu
|
41.284 ha
|
||||||||||||||||||||||||
Sarana Olahraga
|
Pertanian Lingkungan hidup
|
||||||||||||||||||||||||
-
Lap.sepakbola
- Lap.
Bola voly
-
Lap.basket
|
1
1
-
|
1.Taman
Luas taman
Banyak
tanaman
|
2.
Kebersihan
Lokasi
pembangunan
|
||||||||||||||||||||||
B. Seni Budaya Desa Cisaat
Seni merupakan suatu karya yang dibuat atau diciptakan
dengan kecakapan yang luar biasa sehingga merupakan sesuatu yang elok atau
indah. Kebutuhan akan seni budaya merupakan kebutuhan manusia yang lebih tinggi
diantara urutan kebutuhan lainnya. Seni budaya berkaitan langsung dengan
kesejahteraan, keindahan, kebijaksanaan, ketentraman, dan pada puncaknya
merupakan proses evolusi manusia untuk makin dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Oleh karena itu, seni budaya akan berkembang apabila masyarakat makmur dan
sejahtera. Sei budaya merupakan suatu keahlian mengekspresikan ide-ide dan
pemikiran estetika, termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi pandangan
akan benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah sehingga
menciptakan peradaban yang lebih maju .
Adapun seni budaya
desa Cisaat di antaranya :
Ø Seni Burok
Ø Berokan
Ø Genjringan
1.Seni Burok
Seni Burok adalah salah satu kesenian rakyat
yang sangat terkenal dan digemari di kalangan masyarakat Cisaat dan sekitar
Cirebon. Menurut cerita seni Burok sudah ada sekitar tahun 1934. Awalnya ada
seorang penduduk desa Kalimaro Kecamatan Babakan bernama Kalil membuat sebuah
kreasi baru seni Badawang (boneka-boneka berukuran besar) yaitu berupa Kuda
Terbang Buroq, konon ia diilhami oleh cerita rakyat yang hidup di kalangan
masyarakat Islam tentang perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap yang
disebut Buroq.adapun seni burok yang ada di cisaat “OJM” yang di pimpin oleh pak Onih .
Selain dalam
cerita rakyat, masyarakat Cirebon dikenalkan pula sosok Buroq ini dalam
lukisan-lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh
beberapa anggota masyarakat di Cirebon. Lukisan kaca tersebut berupa Kuda
sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik berwajah putih bercahaya. Di
dalam perkembangannya Genjring Buroq semakin digemari masyarakat, bahkan
tersebar ke pelbagai daerah di luar Cirebon, seperti Losari, Brebes,
Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu.
Di Cisaat pertunjukan Burok biasanya
dipakai dalam beberapa hajatan, seperti Sunatan, perkawinan, dll. Burok biasanya
dilakukan mulai pagi hari atau siang hari tergantung pesanan dai yang punya
hajat lalu berkeliling kampung di sekitar lokasi hajatan tersebut. Selain
boneka Buroq, ada juga boneka pengiring lainnya seperti Gajah, Macan, Kuda,
Kera, dll., bahkan sekarang ada juga boneka Barongsai yang biasa kita saksikan
dalam acara imlek.
Pertunjukan
Burok dimulai dengan "Tetalu" lalu bergerak perlahan dengan lantunan
lagu. Setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak dan
semakin lama semakin meriah karena masyarakat boleh turut serta menari berbaur
berjoged ria dengan para pelaku.
Dalam acara khitanan biasanya anak sunat dinaikan ke atas Burok dengan pakaian sunat lengkap dan nampak dimanjakan. Pada saat arak-arakan, lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu dangdutan dan tarling yang merupakan lagu ciri khas masyarakat Cirebon dan sekitarnya.
Musik pengiring Burok biasanya terdiri dari 3 buah dogdog (besar, sedang, kecil), 4 genjring, 1 simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Namun seiring perkembangan zaman doddog dan genjring sekarang sudah tergantikan oleh alat musik yang sudah modern yaitu drum. Alat-alat tersebut berfungsi sebagai pengiring tarian juga pengiring nyanyian. Nyanyian biasanya dibawakan oleh penyanyi pria dan wanita, kadangkala bergiliran tergantung dari karakter lagu yang dibawakan. Biasanya disini banyak orang yang minta lagu yang mereka sukai dengan memberikan saweran.
Dalam acara khitanan biasanya anak sunat dinaikan ke atas Burok dengan pakaian sunat lengkap dan nampak dimanjakan. Pada saat arak-arakan, lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu dangdutan dan tarling yang merupakan lagu ciri khas masyarakat Cirebon dan sekitarnya.
Musik pengiring Burok biasanya terdiri dari 3 buah dogdog (besar, sedang, kecil), 4 genjring, 1 simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Namun seiring perkembangan zaman doddog dan genjring sekarang sudah tergantikan oleh alat musik yang sudah modern yaitu drum. Alat-alat tersebut berfungsi sebagai pengiring tarian juga pengiring nyanyian. Nyanyian biasanya dibawakan oleh penyanyi pria dan wanita, kadangkala bergiliran tergantung dari karakter lagu yang dibawakan. Biasanya disini banyak orang yang minta lagu yang mereka sukai dengan memberikan saweran.
2.Genjringan
Setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing, baik
dari segi makanan maupun dari segi yang lain seperti seni budaya. Salah satunya
di Desa Cisaat mempunyai ciri khas di bidang seni dan budaya. Ciri khas seni
budaya Cisaat ini adalah seninya dipengaruhi oleh nilai-nilai religi atau
merupakan perpaduan nilai religi dengan nilai budaya lokal. Salah satu kesenian
masyarakat Cisaat yang terkenal adalah genjringan.
Genjringan
merupakan seni menabuh rebana yang disertai dengan bacaan-bacaan sholawat.Genjringan ini biasa dipertunjukkan pada acara-acara tertentu,
seperti penyambutan tamu, mengiring pengantin, acara khitanan, dan acara-acara
lainnya yang sifatnya menghibur.
Selain
bersifat hiburan, yang tak kalah pentingnya genjringan ini bernuansa dakwah
atau syiar islam. Karena lagu-lagu yang dibawakan selama genjringan adalah bacaan-bacaan
atau syair-syair sholawat nabi. Jadi, masyarakat diajarkan tentang nilai-nilai
islam melalui seni yang menghibur. Memang luar biasa genjringan ini, selain
menjadi media hiburan juga bisa menjadi media pengajaran.
Genjringan
Cisaat ini sangat terkenal pada tahun 2011-2014
3.Berokan
Sejarah
Menurut
tuturan riwayat yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan senimannya,
bengberokan adalah warisan Pangeran Korowelang atau Pangeran Mina, seorang
penguasa laut Jawa di wilayah Cirebon dan Indramayu. Namun terdapat pula tuturan yang
juga diwariskan di kalangan seniman berokan, bahwa berokan merupakan kreasi
Mbah Kuwu Pangeran Cakrabuana, ketika menyebarkan syiar Islam ke wilayah Galuh, sebagaimana yang dilakukan oleh
para wali, menggunakan pertunjukan sebagai media syiar agama, ditujukan agar
dapat mudah diterima lingkungan budaya pada saat itu.
Ada pendapat bahwa kata berokan berasal dari kata "barokahan" (keselamatan). Namun nampaknya keterangan tersebut hanya sebuah kirata (bahasa Sunda, yang artinya dikira-kira namun tampak nyata), sebuah gejala yang umum terjadi di dalam penamaan jenis seni rakyat.
Ada pendapat bahwa kata berokan berasal dari kata "barokahan" (keselamatan). Namun nampaknya keterangan tersebut hanya sebuah kirata (bahasa Sunda, yang artinya dikira-kira namun tampak nyata), sebuah gejala yang umum terjadi di dalam penamaan jenis seni rakyat.
Bentuk kesenian
Bentuk
berokan yang dekat dengan bentuk-bentuk mitis totemistik dari binatang seperti buaya, wajah raksasa, dll., menunjukkan adaptasi budaya
tersebut.Pertunjukan berokan ini sangat populer di wilayah Cirebon dan
Indramayu. Pada awalnya dilakukan sebagai bagian dari upacara ruwatan dalam menanggulangi pageblug
(epidemi penyakit), menempati rumah baru, dll.Namun demikian, dewasa ini
pertunjukan burokan lebih
banyak dipakai dalam memeriahkan pesta khitanan atau perkawinan.
Bengberokan dimainkan juga pada upacara Ngunjung Buyut, yaitu upacara untuk menghormati arwah leluhur di pekuburan desa-desa tertentu. Bengberokan merupakan kedok yang dibuat dari kayu, yang bentuknya mirip dengan buaya. Warna kedoknya merah dengan mata besar yang menyala, dengan mulut dapat digerakkan (dibuka–tutup) sehingga menghasilkan bunyi "plak-plok". Tubuhnya terbuat dari bekas karung beras yang dijahit sedemikian rupa sehingga mampu menutupi pemainnya, dan mengesankan tubuh binatang yang besar dan berbulu (ditambahi ijuk dan serpihan tambang), kemudian disambung kayu yang dibuat mirip seperti ekor dengan warna belang-belang merah putih, runcing sehingga ujungnya mirip ekor ikan cucut. Berokan biasanya dimainkan secara bergantian.
Pada umumnya para pemain berokan adalah laki-laki. Untuk melibatkan penonton, Berokan digerak-gerakan dengan lincah, kedoknya dimainkan seakan-akan mau mengigit penonton. Efek spontanitas ketakutan penonton (terutama anak-anak) dimanfaatkan oleh pemain Berokan untuk semakin garang dan menghibur.
Pertunjukan Berokan diawali dengan tetalu dan kidung dalam bahasa ibu (Indramayu atau Cirebon), dilanjutkan dengan tarian Berokan yang lambat, perlahan-lahan untuk kemudian menjadi naik turun dan bergairah. Pertunjukan Berokan akan lebih menarik lagi, jika dimainkan di atas pecahan kaca (beling) dan menari-nari di atas bara api. Apabila pertunjukan Berokan dikaitkan dengan upacara tertentu, biasanya dilakukan Kirab Sawan, yakni upacara penyembuhan atau untuk keselamatan dan keberkahan. Kirab Sawan dilakukan setelah sesajen dan persyaratan lainnya lengkap.
Musik pengiring Berokan sangatlah sederhana, terdiri dari kendang, terebang, kecrek, dan bende (gong kecil) yang dimainkan oleh enam orang. Musiknya memang terasa monoton, namun demikian dinamika kadangkala muncul dari kendang dan kecrek, bersahutan dengan suara plak-plok dari kepala Berokan yang terbuka dan tertutup.
Bengberokan dimainkan juga pada upacara Ngunjung Buyut, yaitu upacara untuk menghormati arwah leluhur di pekuburan desa-desa tertentu. Bengberokan merupakan kedok yang dibuat dari kayu, yang bentuknya mirip dengan buaya. Warna kedoknya merah dengan mata besar yang menyala, dengan mulut dapat digerakkan (dibuka–tutup) sehingga menghasilkan bunyi "plak-plok". Tubuhnya terbuat dari bekas karung beras yang dijahit sedemikian rupa sehingga mampu menutupi pemainnya, dan mengesankan tubuh binatang yang besar dan berbulu (ditambahi ijuk dan serpihan tambang), kemudian disambung kayu yang dibuat mirip seperti ekor dengan warna belang-belang merah putih, runcing sehingga ujungnya mirip ekor ikan cucut. Berokan biasanya dimainkan secara bergantian.
Pada umumnya para pemain berokan adalah laki-laki. Untuk melibatkan penonton, Berokan digerak-gerakan dengan lincah, kedoknya dimainkan seakan-akan mau mengigit penonton. Efek spontanitas ketakutan penonton (terutama anak-anak) dimanfaatkan oleh pemain Berokan untuk semakin garang dan menghibur.
Pertunjukan Berokan diawali dengan tetalu dan kidung dalam bahasa ibu (Indramayu atau Cirebon), dilanjutkan dengan tarian Berokan yang lambat, perlahan-lahan untuk kemudian menjadi naik turun dan bergairah. Pertunjukan Berokan akan lebih menarik lagi, jika dimainkan di atas pecahan kaca (beling) dan menari-nari di atas bara api. Apabila pertunjukan Berokan dikaitkan dengan upacara tertentu, biasanya dilakukan Kirab Sawan, yakni upacara penyembuhan atau untuk keselamatan dan keberkahan. Kirab Sawan dilakukan setelah sesajen dan persyaratan lainnya lengkap.
Musik pengiring Berokan sangatlah sederhana, terdiri dari kendang, terebang, kecrek, dan bende (gong kecil) yang dimainkan oleh enam orang. Musiknya memang terasa monoton, namun demikian dinamika kadangkala muncul dari kendang dan kecrek, bersahutan dengan suara plak-plok dari kepala Berokan yang terbuka dan tertutup.
Makna
Ada beberapa
makna yang dapat disimpulkan dari pertunjukan Berokan ini:
- Makna mitis yaitu sebagai media
penolak bala yang menjadi awal mula fungsi Berokan. Dengan mempertunjukan
Berokan, dipercayai bahwa bala telah ditolak, dan dipercayai akan
mendatangkan kebahagiaan.
- Makna sinkretis karena Berokan
digunakan sebagai media dakwah pada masa awal penyebaran syiar Islam di
wilayah Cirebon.
- Makna teatrikal karena Berokan
beraksi menari, mengejar, dan memainkan kepalanya serta berbaur dengan
spontanitas penonton yang merasa takut bercampur gembira
- Makna universal, karena Berokan
memiliki kemiripan bentuk dengan Barongsay dan Chilin dari
Tiongkok, mahluk-mahluk naga dari Eropa Purba.
Namun
sayang, seiring berjalannya waktu Berokan yang menjadi kebanggaan masyarakat
Cisaat khususnya Cisaat Blok 1 ,dari tahun ke tahun meredup dan padam.
Sekarang, Berokan yang merupakan kebanggaan masyarakat Cisaat hanya tinggal
kenangan.
C. Tradisi Islam
Tradisi dalam kamus besar kontemporer berarti adat kebiasaan yang
sifatnya turun temurun yang masih di laksanakan. Artinya kebiasaan atau adat-istiadat yang masih di
laksanakan dan ada di tengah masyarakat sampai sekarang. Karena sebelum islam
datang telah ada adat kebiasaan masyarakat, maka terjadilah akulturasi budaya
antara islam dan adta setempat. Hal ini yang menjadikan persebaran islam masih
kental di warnai oleh adat dan kebiasaan masyarakat setempat.Ada juga tradisi
islam yang ada di desa Cisaat,yaitu :
1.Tujuh Bulanan
Upacara
tujuh bulanan adalah ritual adat-istiadat yang dilakukan dalam merayakan usia
kandungan seorang ibu yang mencapai tujuh bulan. Dalam bahasa Jawa, upacara ini
disebut mitoni, yang artinya suatu kegiatan yang dilakukan pada
hitungan ke-7. Tujuan diselenggarakan upacara ini adalah agar embrio dalam
kandungan dan ibu senantiasa memperoleh keselamatan sampai ia lahir kelak.
2.Tahlilan
Tahlilan adalah
ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat islam, kebanyakan di
Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang
yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga
hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun
pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada
hari ke-1000.
Kata
"Tahlil" sendiri secara harafiah berarti berizikir dengan mengucap
kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" (tiada yang patut disembah
kecuali Allah), yang sesungguhnya bukan zikir yang dikhususkan bagi upacara
memperingati kematian seseorang.
Ritual/upacara ini (berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit, berzikir dan membaca sejumlah ayat Al Qur'an, kemudian mendoakan mayit), menurut berbagai sumber, bukan merupakan ajaran Islam. Bahkan, berdasarkan hadist, ritual ini diharamkan, apalagi jika ritual itu dirukunkan pada 1-7 hari, 40 hari, 1000 hari, atau dengan rukun-rukun lainnya. Ritual/upacara ini oleh beberapa ulama digolongkan sebagai bid'ah
Upacara tahlilan ditengarai merupakan praktik pada masa transisi yang dilakukan oleh masyarakat yang baru memeluk Islam, tetapi tidak dapat meninggalkan kebiasaan mereka yang lama. Berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit bukan hanya terjadi pada masyarakat pra Islam di Indonesia saja, tetapi di berbagai belahan dunia, termasuk di jazirah Arab. Oleh para da'i pada waktu itu, ritual yang lama diubah menjadi ritual yang bernafaskan Islam. Di Indonesia, tahlilan masih membudaya, sehingga istilah "Tahlilan" dikonotasikan sebagai memperingati kematian seseorang.
Tahlil, takbir, tahmid dan tasbih pada dasarnya merupakan zikir yang sangat dianjurkan. Akan tetapi berkumpul-kumpul di kediaman ahli mayit, apalagi dirukunkan pada hari 1-7, 40 100, dan 1000, kemudian dijamu oleh ahli mayit, berdasarkan hadits adalah perbuatan haram.
Ritual/upacara ini (berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit, berzikir dan membaca sejumlah ayat Al Qur'an, kemudian mendoakan mayit), menurut berbagai sumber, bukan merupakan ajaran Islam. Bahkan, berdasarkan hadist, ritual ini diharamkan, apalagi jika ritual itu dirukunkan pada 1-7 hari, 40 hari, 1000 hari, atau dengan rukun-rukun lainnya. Ritual/upacara ini oleh beberapa ulama digolongkan sebagai bid'ah
Upacara tahlilan ditengarai merupakan praktik pada masa transisi yang dilakukan oleh masyarakat yang baru memeluk Islam, tetapi tidak dapat meninggalkan kebiasaan mereka yang lama. Berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit bukan hanya terjadi pada masyarakat pra Islam di Indonesia saja, tetapi di berbagai belahan dunia, termasuk di jazirah Arab. Oleh para da'i pada waktu itu, ritual yang lama diubah menjadi ritual yang bernafaskan Islam. Di Indonesia, tahlilan masih membudaya, sehingga istilah "Tahlilan" dikonotasikan sebagai memperingati kematian seseorang.
Tahlil, takbir, tahmid dan tasbih pada dasarnya merupakan zikir yang sangat dianjurkan. Akan tetapi berkumpul-kumpul di kediaman ahli mayit, apalagi dirukunkan pada hari 1-7, 40 100, dan 1000, kemudian dijamu oleh ahli mayit, berdasarkan hadits adalah perbuatan haram.
Tahlil, takbir, tahmid, dan tasbih
dapat dilakukan setiap hari. Yang dijamin makbul doanya bagi keselamatan mayit
di akhirat adalah doa anak, yang juga dapat dilakukan setiap hari. Siapapun
yang bukan anak mayit dapat pula mendoakannya, tetapi tidak harus berkumpul di
rumah ahli mayit, dan tidak harus dirukunkan pada hari-hari sebagaimana
diuraikan sebelumnya.
3.Sedekah Bumi
Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk
ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara
turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini
biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berprofesi sebagai
petani, nelayan yang menggantunggkan hidup keluarga dan sanak famil mereka dari
mengais rizqi dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.
4.Puputan
Tradisi kelahiran dalam budaya Jawa
salah satunya adalah Puputan. Upacara puputan bertujuan memohon keselamatan
bagi si bayi. Perlengkapan upacara ini meliputi:
- Golongan bangsawan: nasi gudangan, jenang abang putih, lima macam bubur dan jajan pasar.
- Golongan rakyat biasa: nasi jangan, jenang abang putih, jenang baro-baro dan jajan pasar.
Puputan merupakan saat tali pusar bayi putus atau puput. Pada saat itu, diadakan Slametan Puputan Puser berupa kendhuri, bancakan dan pemberian nama bayi. Upacara ini diadakan setelah maghrib dan dihadiri oleh bayi, ibu, dukun, pinisepuh, dan sanak saudara.
============================================
Demikianlah postingan saya kali ini mengenai Demografi Desa Cisaat., semoga bisa bermanfaat bagi agan-agan sekalian yang membutuhkan. Dan bila ada kritik, saran, dan masukan, silahkan cantumkan di komentar.
Sampai berjumpa lagi di postingan saya berikutnya.!
Wassalamuallaikum Wr.wb,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar