Senin, 13 April 2015

Arti Syair Gus Dur Dalam Bahasa Indonesia

     Syi’ir (Syair) ini merupakan sedikit oleh-oleh pemikiran islam dari Gus Dur (Abdurrahman Wahid) bagi segenap umat islam pada khususnya.

      Dalam syi’ir ini, beliau berbagi ilmu, kritik bagi sesama muslim, dan banyak hal yang beliau berikan dalam beberapa baris syair. Dari ajakan untuk tidak sekedar membaca Al-Qur’an, namun juga seharusnya kita belajar memahami isinya. Mengkritisi pihak-pihak yang (suka) mengkafirkan orang lain namun tidak memperhatikan kekafiran dirinya sendiri. Dan masih banyak pesan lainnya bagi kita semua.


Syi'ir tanpo waton :



أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا     *    أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا     *       وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا

ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ      *    يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ

عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ      *   ( يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ


Ngawiti ingsun nglaras syi’iran … aku memulai menembangkan syi’ir
Kelawan muji maring Pengeran … dengan memuji kepada Tuhan
Kang paring rohmat lan kenikmatan … yang memberi rohmat dan kenikmatan
Rino wengine tanpo pitungan 2X … siang dan malamnya tanpa terhitung
Duh bolo konco priyo wanito … wahai para teman pria dan wanita
Ojo mung ngaji syareat bloko … jangan hanya belajar syari’at saja
Gur pinter ndongeng nulis lan moco … hanya pandai bicara, menulis dan membaca
Tembe mburine bakal sengsoro 2X … esok hari bakal sengsara
Akeh kang apal Qur’an Haditse … banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya
Seneng ngafirke marang liyane … senang mengkafirkan kepada orang lain
Kafire dewe dak digatekke … kafirnya sendiri tak dihiraukan
Yen isih kotor ati akale 2X … jika masih kotor hati dan akalnya
Gampang kabujuk nafsu angkoro … gampang terbujuk nafsu angkara
Ing pepaese gebyare ndunyo … dalam hiasan gemerlapnya dunia
Iri lan meri sugihe tonggo … iri dan dengki kekayaan tetangga
Mulo atine peteng lan nisto 2X … maka hatinya gelap dan nista
Ayo sedulur jo nglaleake … ayo saudara jangan melupakan
Wajibe ngaji sak pranatane … wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya
Nggo ngandelake iman tauhide … untuk mempertebal iman tauhidnya
Baguse sangu mulyo matine 2X … bagusnya bekal mulia matinya
Kang aran sholeh bagus atine … Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya
Kerono mapan seri ngelmune … karena mapan lengkap ilmunya
Laku thoriqot lan ma’rifate … menjalankan tarekat dan ma’rifatnya
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X … juga hakikat meresap rasanya
Al Qur’an qodim wahyu minulyo … Al Qur’an qodim wahyu mulia
Tanpo tinulis biso diwoco … tanpa ditulis bisa dibaca
Iku wejangan guru waskito … itulah petuah guru mumpuni
Den tancepake ing jero dodo 2X … ditancapkan di dalam dada
Kumantil ati lan pikiran … menempel di hati dan pikiran
Mrasuk ing badan kabeh jeroan … merasuk dalam badan dan seluruh hati
Mu’jizat Rosul dadi pedoman … mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman 2 X … sebagai sarana jalan masuknya iman
Kelawan Alloh Kang Moho Suci … Kepada Alloh Yang Maha Suci
Kudu rangkulan rino lan wengi …. harus mendekatkan diri siang dan malam
Ditirakati diriyadohi … diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X … dzikir dan suluk jangan sampai lupa
Uripe ayem rumongso aman … hidupnya tentram merasa aman
Dununge roso tondo yen iman … mantabnya rasa tandanya beriman
Sabar narimo najan pas-pasan … sabar menerima meski hidupnya pas-pasan
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X … semua itu adalah takdir dari Tuhan
Kelawan konco dulur lan tonggo … terhadap teman, saudara dan tetangga
Kang podho rukun ojo dursilo … yang rukunlah jangan bertengkar
Iku sunahe Rosul kang mulyo … itu sunnahnya Rosul yang mulia
Nabi Muhammad panutan kito 2x … Nabi Muhammad tauladan kita
Ayo nglakoni sakabehane … ayo jalani semuanya
Alloh kang bakal ngangkat drajate … Allah yang akan mengangkat derajatnya
Senajan asor toto dhohire … Walaupun rendah tampilan dhohirnya
Ananging mulyo maqom drajate 2X … namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah
Lamun palastro ing pungkasane … ketika ajal telah datang di akhir hayatnya
Ora kesasar roh lan sukmane … tidak tersesat roh dan sukmanya
Den gadang Alloh swargo manggone … dirindukan Allah surga tempatnya
Utuh mayite ugo ulese 2X … utuh jasadnya juga kain kafannya

Kamis, 09 April 2015

Sejarah singkat Tragedi Semanggi




Assalamuallaikum Wr.wb.

Berjumpa lagi dengan saya Wira Takiya di blog saya yang sederhana ini. Pada kesempatan kali ini saya akan memposting artikel singkate tentang Tragedi Semanggi. Semoga dapat bermanfaat. Langsung saja kepada artikelnya.......



========================================================================



Pada bulan November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa untuk menentukan Pemilu berikutnya dan membahas agenda-agenda pemerintahan yang akan dilakukan. Mahasiswa bergolak kembali karena mereka tidak mengakui pemerintahan ini dan mereka mendesak pula untuk menyingkirkan militer dari politik serta pembersihan pemerintahan dari orang-orang Orde Baru.

Masyarakat dan mahasiswa menolak Sidang Istimewa 1998 dan juga menentang dwifungsi ABRI/TNI karena dwifungsi inilah salah satu penyebab bangsa ini tak pernah bisa maju sebagaimana mestinya. Benar memang ada kemajuan, tapi bisa lebih maju dari yang sudah berlalu, jadi, boleh dikatakan kita diperlambat maju. Sepanjang diadakannya Sidang Istimewa itu masyarakat bergabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari dunia internasional terlebih lagi nasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya Sidang Istimewa tersebut, diliburkan untuk mecegah mahasiswa berkumpul. Apapun yang dilakukan oleh mahasiswa mendapat perhatian ekstra ketat dari pimpinan universitas masing-masing karena mereka di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa. Sejarah membuktikan bahwa perjuangan mahasiswa tak bisa dibendung, mereka sangat berani dan jika perlu mereka rela mengorbankan nyawa mereka demi Indonesia baru.

Pada tanggal 12 November 1998 ratusan ribu mahasiswa dan masyrakat bergerak menuju ke gedung DPR/MPR dari segala arah, Semanggi-Slipi-Kuningan, tetapi tidak ada yang berhasil menembus ke sana karena dikawal dengan sangat ketat oleh tentara, Brimob dan juga Pamswakarsa (pengamanan sipil yang bersenjata bambu runcing untuk diadu dengan mahasiswa). Pada malam harinya terjadi bentrok pertama kali di daerah Slipi dan puluhan mahasiswa masuk rumah sakit. Satu orang pelajar, yaitu Lukman Firdaus, terluka berat dan masuk rumah sakit. Beberapa hari kemudian ia meninggal dunia.

Esok harinya Jum'at tanggal 13 November 1998 ternyata banyak mahasiswa dan masyarakat sudah bergabung dan mencapai daerah Semanggi dan sekitarnya, bergabung dengan mahasiswa yang sudah ada di depan kampus Atma Jaya Jakarta. Jalan Sudirman sudah dihadang oleh aparat sejak malam hari dan pagi hingga siang harinya jumlah aparat semakin banyak guna menghadang laju mahasiswa dan masyarakat. Kali ini mahasiswa bersama masyarakat dikepung dari dua arah sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dengan menggunakan kendaraan lapis baja.

Jumlah masyarakat dan mahasiswa yang bergabung diperkirakan puluhan ribu orang dan sekitar jam 3 sore kendaraan lapis baja bergerak untuk membubarkan massa membuat masyarakat melarikan diri, sementara mahasiswa mencoba bertahan namun saat itu juga terjadilah penembakan membabibuta oleh aparat dan saat di jalan itu juga sudah ada mahasiswa yang tertembak dan meninggal seketika di jalan. Ia adalah Teddy Wardhani Kusuma, merupakan korban meninggal pertama di hari itu.

Mahasiswa terpaksa lari ke kampus Atma Jaya untuk berlindung dan merawat kawan-kawan dan masyarakat yang terluka. Korban kedua penembakan oleh aparat adalah Wawan, yang nama lengkapnya adalah Bernadus R Norma Irawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya, Jakarta, tertembak di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir kampus Atma Jaya, Jakarta. Mulai dari jam 3 sore itu sampai pagi hari sekitar jam 2 pagi terus terjadi penembakan terhadap mahasiswa di kawasan Semanggi dan saat itu juga lah semakin banyak korban berjatuhan baik yang meninggal tertembak maupun terluka. Gelombang mahasiswa dan masyarakat yang ingin bergabung terus berdatangan dan disambut dengan peluru dan gas airmata. Sangat dahsyatnya peristiwa itu hingga jumlah korban yang meninggal mencapai 15 orang, 7 mahasiswa dan 8 masyarakat. Indonesia kembali membara tapi kali ini tidak menimbulkan kerusuhan.

Anggota-anggota dewan yang bersidang istimewa dan tokoh-tokoh politik saat itu tidak peduli dan tidak mengangap penting suara dan pengorbanan masyarakat ataupun mahasiswa, jika tidak mau dikatakan meninggalkan masyarakat dan mahasiswa berjuang sendirian saat itu. Peristiwa itu dianggap sebagai hal lumrah dan biasa untuk biaya demokrasi. "Itulah yang harus dibayar mahasiswa kalau berani melawan tentara".

Betapa menyakitkan perlakuan mereka kepada masyarakat dan mahasiswa korban peristiwa ini. Kami tidak akan melupakannya, bukan karena kami tak bisa memaafkan, tapi karena kami akhirnya sadar bahwa kami memiliki tujuan yang berbeda dengan mereka. Kami bertujuan memajukan Indonesia sedangkan mereka bertujuan memajukan diri sendiri dan keluarga masing-masing. Sangat jelas!

Demikian Postingan saya pada kesempatan kali ini, Semoga dapat bermanfaat.
Sampai bertemu di postingan berikutnya.

Wassalamuallaikum Wr.Wb.

Sejarah singkat Tragedi Trisakti

Setelah Soekarno diturunkan dan dicabut kepresidenannya pada tanggal 12 Maret 1967, Soeharto mengambil alih posisi presiden Indonesia. Pada masa pemerintahannya, Soeharto amat sangat mengekang kebebasan berpendapat hingga melarang adanya bentuk protes apapun yang dilakukan oleh mahasiswa. Pada tahun 27 Juli 1996, pihak bersenjata menyerang markas PDI di Jakarta Pusat. Pada masa itu, Megawati Sukarno putri yang diangkat menjadi ketua partai dinilai berbahaya oleh pemerintahan Orde Baru. Pada 29 Mei 1997, pemilu dilakukan dan dimenangkan oleh Golkar dengan 74% suara. Pemilu ini dinilai telah dicurangi dan menyebabkan kemarahan publik. Hal ini berujung pada salah satu catatan kelam negara kita, tragedi Trisakti, 12 Mei 1998.


Sejarah Tragedi Trisakti 12 Mei 1998
12 Mei 1998 merupakan salah satu dari beberapa rangkaian kerusuhan yang terjadi di Indonesia mengikuti dilantiknya Soeharto setelah tujuh tahun berturut-turut pada bulan Maret di tahun yang sama. Yang membuat rakyat marah kemungkinan adalah karena Soeharto berseru tentang reformasi politik dan ekonomi, tapi pada kenyataannya Kabinet Pembangunan VII – kabinet buatan Soeharto pada saat itu berisi anggota keluarga dan kroni-kroni Soeharto, termasuk anak didiknya, Bacharuddin Jusuf Habibie sebagai wakil presidennya.

Sebelum terjadi kerusuhan di Jakarta, Medan telah terlebih dahulu menyalakan api kebencian akan pemerintahan Soeharto. Pada awal Mei dimulai, para pelajar sudah mulai menjalankan aksi demonstrasi di kampus-kampus sekitaran Medan selama dua bulan. Jumlah pelajar yang mengikuti aksi demonstrasi ini terus bertambah seiring makin lantangnya panggilan dari masyarakat untuk reformasi total. Hal yang membuat mahasiswa semakin berang adalah tewasnya salah satu mahasiswa pada 27 April yang kesalahannya dilemparkan pada pihak berwajib yang melemparkan gas air mata ke kampus dan mencapai puncak pada tanggal 4 hingga 8 Mei saat pemerintah memutuskan menaikkan harga minyak sebesar 70% dan 300% untuk biaya listrik.

Pada tanggal 9 Mei, presiden Soeharto terbang menuju group of 15 summit di Kairo, Mesir. Sebelum berangkat, Soeharto berkata pada masyarakat untuk menghentikan protes mereka dan seperti yang dituliskan di Suara Pembaruan, bahwa ia menyatakan kalau hal ini terus berlanjut, tidak akan ada kemajuan di Indonesia. Soeharto yang awalnya dijadwalkan untuk kembali ke Jakarta pada 14 Mei, pulang lebih cepat saat kerusuhan di Jakarta mencapai titik kritis, sebuah kejadian yang akan mencatat sejarah kelam tragedi Trisakti 12 Mei 1998 di Indonesia.

Kericuhan di Jakarta mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei ketika pihak kepolisian dan tentara mulai menembaki mahasiswa-mahasiswa yang melakukan aksi protes damai. Tragedi ini menewaskan 4 orang, Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Belasan orang juka terluka sebagai hasil dari tragedi ini. Penembakan protestan tanpa senjata ini menyebabkan kerusuhan yang sebelumnya sudah terjadi menjadi tambah marak di seluruh Indonesia, dan pada akhirnya melengserkan Soeharto dari kursi kepemimpinannya.

Kronologi Tragedi Trisakti
Protes yang menjadi kejadian kunci sejarah kelam tragedi Trisakti 12 Mei 1998 dimulai pada pukul 10 siang dan diikuti lebih dari 6000 mahasiswa, staff, dan dosen yang berkumpul di lapangan parkir universitas Trisakti. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menurunkan bendera Indonesia menjadi setengah tiang yang menyimbolkan duka atau kesengsaraan. Baru ketika hari mulai siang, para protestan ini bersiap-siap untuk melakukan long march menuju gedung DPR/MPR. Belum jauh dari kampus, mereka dihentikan oleh oleh pihak kepolisian, tepatnya di depan kantor walikota Jakarta Barat. Sebagai respon dari penghentian mereka, para protestan ini kemudian menduduki jalan S. Parman dan menghalangi jalur lalu lintas. Setelah bantuan dari pihak militer datang untuk membantu kepolisian, dekan fakultas hukum, Adi Andojo, berhasil membujuk para demonstran kembali ke kampus. Pada saat itu, pasukan pengamanan yang ada di lokasi adalah Polisi Brimob, KOSTRAD, dan Kodam Jaya. Mereka dipersenjatai dengan perisai huru-hara, gas air mata, Steyr AUG, dan Pindad SS-1.

Ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore, hampir seluruh demonstran telah kembali ke area kampus Trisakti. Sesaat setelah kembali inilah, cemoohan terdengar dari kumpulan polisi dan tentara, diikuti dengan rentetan tembakan yang menyebabkan para demonstran panik dan tercerai berai. Kekacauan ini memakan dua korban jiwa, yaitu Elang Mulya Lesmana dan Hendriawan Sie yang saat itu sedang berusaha masuk ke ruangan rektorat di gedung Dr. Syarif Thayeb. Korban jiwa kembali jatuh ketika para mahasiswa yang belum mengungsi berkumpul di sebuah ruangan terbuka. Tentara-tentara yang diposisikan di atap gedung terdekat terus menembak, melukai banyak mahasiswa dan mengambil nyawa dari Heri Hartanto dan Hafidin Royan. Penembakan baru berhenti pada pukul 8 malam, dan pihak kampus bergegas membawa mereka yang terluka menuju rumah sakit terdekat.

Sejarah tragedi Trisakti 12 Mei 1998 ini seperti disebutkan di atas memakan 4 korban jiwa yang semuanya merupakan mahasiswa dari universitas Trisakti. Keempat mahasiswa ini kemudian oleh Bacharuddin Jusuf Habibi yang naik menggantikan Soeharto sebagai presiden diberi julukan sebagai pahlawan reformasi, karena tewasnya mereka secara tidak langsung mengobarkan api reformasi di hati masyarakat-masyarakat Indonesia yang lainnya. Meski begitu, sebelum presiden Soeharto turun, sempat ada kerusuhan yang jauh lebih besar di Jakarta yang menewaskan 1200 orang tewas yang kebanyakan dikarenakan oleh terjebaknya orang-orang itu di dalam gedung yang dibakar. Pada saat itu, penjarahan terjadi dimana-mana, dan warga Indonesia keturunan Tiongkok menjadi korban penganiayaan dan berbagai tindakan lainnya oleh masyarakat yang menjadi buas.

Nah, demikian penjelasan singkat mengenai Sejarah Kelam Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang sampai sekarang belum tuntas penyelasaian kasusnya. Sudah 17 tahun peristiwa ini berlalu, tentu ini menjadi kisah pilu tersendiri bagi kita bangsa Indonesia. Semoga peristiwa ini segera di usut tuntas sampai ke akar-akarnya. Jangan sampai terulang lagi pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), dimana segala cara dihalalkan untuk mencapai suatu tujuan kelompok tertentu. Terima kasih atas kunjungannya.

Konversi Ukuran Foto dari R ke CM dan Inchi

Bismillah.
Assalamuallaikum wr.wb.
Selamat datang di blog saya yang sederhana ini. Ini adalah posingan pertama saya, dan semoga ini menjadi pemicu untuk saya kedepannya agar lebih giat lagi dalam memposting informasi-informasi atau artikel-artikel yang bermanfaat bagi agan-agan pengunjung sekalian. :-)
Pada kesempatan kali ini, saya akan memposting tentang Konversi Ukuran Foto dari R ke CM. Semoga dapat bermanfaat bagi anda para pengunjung sekalian, khususnya yang senang berkarya dalam bidang percetakan dan designer. Oke tak usah panjang lebar lagi, langsung saja kepada artikelnya....


Ukuran Foto R dalam Cm :

2R –> 6  cm x  9 cm
3R –> 8,9   cm x   12,7 cm
4R –> 10.2   cm x   15.2 cm
5R –> 12.7  cm  x   17.8 cm
6R –> 15.2   cm x   20.3 cm
8R –> 20.3  cm  x   25.4 cm
8R (+) –> 20.3  cm  x    30.5 cm
10R –> 25.4  cm  x   30.5 cm
10R (+) –> 25.4 cm  x   38.1 cm
12R –> 30,48  cm  x   39,37 cm
16R –> 40,64  cm  x   50,8 cm
20R –> 50,8  cm  x   60,96 cm
24R –> 60,96  cm x 80 cm
30R –> 75  cm  x  100 cm

========================================================================

 Untuk ukuran dalam inchi adalah sebagai berikut :

3R = 3,5 inchi  x  5 inchi
4R =  4 inchi  x  6 inchi
5R = 5 inchi  x  7 inchi
8R =  8 inchi  x  10 inchi
10R = 10 inchi  x  12 inchi
12R = 12 inchi  x  15,5 inchi
16R = 16 inchi  x  20 inchi
20R = 20 inchi  x  24 inchi
24R = 24 inchi  x  31,5 inchi
30R = 30 inchi  x  40 inchi

========================================================================

Karena pembuatan ukuran tersebut untuk dilakukannya pencetakan maka sebaiknya resolusi yang digunakan adalah sesuai dengan standar cetak foto yaitu 300 dpi. Namun jika kamera yang digunakan menggunakan ukuran yang lebih kecil dari standar cetak foto maka sebaiknya ukuran cetak pun harus disesuaikan agar nantinya bisa menghasilkan cetakan yang maksimal.

UKURAN MAKSIMAL KERTAS FOTO UNTUK KAMERA

Kamera 0.1 mega pixel ( 352 × 228 ), maksimal ukuran cetak foto = 2×3 cm
Kamera 0.3 mega pixel ( 640 × 480 ),  maksimal ukuran cetak  foto = 4×6 cm
Kamera 1.0, 1.2, 1.3 mega pixel, maksimal ukuran cetak foto  = 2R
3R = 1051 pixel × 1500 pixel
4R = 1205 pixel × 1795 pixel
5R = 1500 pixel × 2102 pixel
6R = 1795 pixel × 2551 pixel
8R = 2398 pixel × 3000 pixel
8R Plus = 2398 pixel × 3602 pixel
10R =  3000 pixel × 3602 pixel
10R Plus =  3000 pixel x 4500 pixel

Semoga bermanfaat.

Demografi Desa Cisaat, Kec Waled, Kab Cirebon Jawa Barat, Indonesia

                   
Bismillah.
Assalamuallaikum  Wr.wb.
          Berjumpa lagi dengan saya Wira Takiya, di blog saya yang amat sangat sederhana ini (namun bermanfaat) hehe.
          Pada kesempatan kali ini, saya akan memaparkan artikel tentang Demografi Desa Cisaat, Kec. Waled, Kab. Cirebon, Prov. Jawa Barat, Indonesia. :-)
          Mungkin banyak di blog-blog lain yang sudah memposting artikel Demografi desa Cisaat ini. Namun kali ini saya akan mengulasnya kembali dengan sedikit berbeda., bahkan lebih detail dan terperinci.
         Bagi agan-agan yang membutuhkan artikel tentang Demografi Desa Cisaat, bisa meng'copy artikel nya di bawah ini.
         Oke langsung saja yah gan ini dia artikel mengenai Demografi Desa Cisaat. Semoga bermanfaat bagi sesama. :-)


================================================


A. Sejarah dan Data Monografi Desa Cisaat
Pada abad XIV daerah ini bernama Tresna yang merupakan pintu keluar masuknya para ki gedeng seperti Ki Gedeng Palimanan dan Ki Gedeng Pasawahan yang hendak berburu rusa dan menikmati pemandangan pegunungan. Oleh karena daerahnya sering dilewati para pemburu. Ki Buyut Tresna dikenal dengan nama Ki Panderesan.
Ki Gedeng Pasawahan alias Ki Makeru di samping senang berburu, ia kerapkali memusuhi Mbah Kuwu Sangkan di mana keduanya sama kuat, baik ketika bertempur di atas gunung maupun bertarung di atas air (toya gamana giri gamana, bhs. Cirebon). Ki Makeru tidak segan-segan melakukan tipu daya dengan cara yang licik, dan secara tiba-tiba memukul dari belakang, sehingga Mbah Kuwu Sangkan dengan ketinggian ilmunya semula terkesan tidak sungguh-sungguh melayani setiap pertarungan.
Ki Makeru terkenal sakti mandraguna, ia memiliki berbagai ilmu hitam meringankan tubuh, masuk lubang kecil, ‘ilmu mencala putra mencala putri’ untuk menipu jalasutra, sehingga ia selalu menginginkan pertarungan dilakukan di atas gunung atau di atas air. Mbah Kuwu Sangkan akhirnya meladeni setiap keinginan Ki Makeru, di mana dengan kepandaian ilmunya beliau mengetahui kelemahan musuhnya, apalagi pengikut Ki Makeru sebagian besar telah ditundukkannya. Segala cara ditempuh Ki Makeru dengan mudah dipatahkan beliau, meskipun bukan tandingan Mbah Kuwu Sangkan, Ki Makeru tetap tidak mau tunduk bahkan oleh karena merasa dipermalukan ia menghilang (nghiang, bhs. Sunda), tidak mau masuk agama Islam.
Setelah melakukan pertempuran, Mbah Kuwu Sangkan bermaksud meninggalkan Pasawahan untuk beristirahat sambil menikmati air pohon enau (lahang, bhs. Sunda) kesukaannya di Panderesan. Sangat disayangkan air lahang kesenangannya tidak tersedia sehingga Mbah Kuwu Sangkan kecewa dan berkata kepada Ki Panderesan, apabila hendak menyadap aren bacakan Syahadat tiga kali.
Sekembalinya Mbah Kuwu Sangkan ke Cirebon, Ki Panderesan segera membuat lodong dari bambu untuk menyadap aren. Sebagaimana dipesankan Mbah Kuwu Sangkan, ketika akan memasangkan lodong Ki Panderesan tidak lupa membaca Syahadat tiga kali. Sungguh ajaib ketika lodong diturunkan esok harinya, ternyata lodong itu tidak berisi air lahang melainkan emas dan intan.
Ki Panderesan sangat berbahagia dan gembira, ia bernadzar ingin makan bersama Mbah Kuwu Sangkan serta pengikutnya yang akan singgah kembali di Panderesan, untuk menghormati tamunya itu, Ki Panderesan menyediakan berbagai hidangan, hingga tanpa disadari ayam yang sedang mengeram pun dipotong. Ketika Mbah Kuwu Sangkan menikmati hidangan itu, beliau tersenyum dengan hati yang tak tega oleh karena panggang ayam yang dihidangkan itu berasal dari induk yang sedang mengeram. Tak lama kemudian panggang ayam itu berubah, hidup kembali seperti semula.
Ketika akan kembali ke Cirebon, Mbah Kuwu Sangkan mengajak Ki Panderesan pergi ke Cirebon. Ketika ditanyakan kepada Mbah Kuwu Sangkan apakah hewan-hewan peliharaan seperti ayam, bebek, kambing dan lainnya perlu dibawa ke Cirebon? Mbah Kuwu Sangkan mengatakan tidak perlu. “Lihat saja nanti apa yang akan terjadi,” pintanya. Dan tak lama kemudian semua hewan berubah menjadi ular.
Oleh karena itu, daerah ini dahulu terkenal dengan ular-ularnya yang besar.Dalam perjalanan ke Cirebon, pusaka cis milik Mbah Kuwu Sangkan terjatuh ke sungai, para pengikut Mbah Kuwu Sangkan segera menambak sungai dengan pasir (keusik – bhs. Sunda). Setelah itu airnya ditimba (diparak – bhs. Sunda) beramai-ramai hingga kering (saat – bhs. Sunda), akan tetapi yang diketemukan hanya kerangkanya saja. Sungai tempat jatuhnya cis milik Mbah Kuwu Sangkan itu dikenal dengan nama ‘Parakan Keusik’, dan daerah sekitarnya disebut ‘Cisaat’ hingga sekarang.
Ki Buyut Cisaat yang diketahui diantaranya adalah :
  • Kasep Sabale
  • Narum
  • Mangku Jaya
  • Mangku Raga
  • Sela Merta
  • Tuan
  • Irodat
  • Merta Gati
  • Nursimah
  • Udin
  • Surangga Bima
  • Pabunian
  • Nampa
  • Sarif
  • Kembar
  • Kesem
  • Katijem
  • Lulut
  • Leuleut
  • Kenanga
  • Kenangi
Adapun Pemegang jabatan Kuwu Desa Cisaat adalah sebagai berikut :
No
Nama
Jabatan
Tahun Jabatan
1
A.Tambiyah
Pejabat Kades
1982 – 1985
2
M. Mas’un. B
Kades
1985 – 1993
3
Muhandar
Pejabat Kades
1993 – 1995
4
Odi Odadi
Kades
1995 – 1999
5
Dasdji
Pejabat Kades
1999 – 2001
6
Tirsa
Plh. Kades
Sept – Nop 2001
7
Dasdji, SIP
Kuwu
2001 – 2011
8
Raswan
Kuwu
2011 – 2015



Data Monografi Desa Cisaat, Kec.Waled, Kab.Cirebon

Jumlah Penduduk Menurut Jenis kelamin

1.Jenis kelamin
    Laki-laki       : 2449 orang
   Perempuan  : 2254 orang
 Jumlah           : 4703 orang
 Kepala kel.     : 1284 orang

2.Kewarganegaraan
WNI = Laki-laki      : 2449
           Perempuan : 2254
Jumlah Penduduk menurut Agama
1.Islam     : 4700 orang
2.Kristen  :       3 orang
Jumlah Pendidikan menurut usia
Kelompok pendidikan
Kelompok kerja

00 – 03
04 – 06
07 – 12
13 – 15
16 – 18
19 keatas

295 0rang
232 orang
464 orang
255 orang
251 orang
3.206 orang

10 – 14
15 – 19
20 – 26
27 – 40
41 – 56
57 ke atas

394 orang
404 orang
487 orang
1.059 orang
939 orang
1.420 orang
Jumlah Pendidikan Menganut Pendidikan Lulusan
Pendidikan Umum
Lulusan Pendidikan Khusus

PAUD
TK
SD
SMP
SMA
Akademi  (D1-D3)
Sarjana    (S1-S2)

32 orang
4 orang
1314 orang
363 orang
258 orang
18 orang
20 orang

Pondes                          
Madrasah                    

27 orang
187 orang
Jumlah Penduduk Mobilitas
Lahir
Kematian
Laki – laki        48 orang
Perempuan     50 orang
Jumlah            98 orang
Laki – laki       23 orang
Perempuan    24 orang
Jumlah           47 orang
Status & Tanah Kas Desa
Status
Tanah Kas Desa
  Sertifikat hak pemilik 61 orang
  Sertifikat hak guna usaha HGU 1 orang
  Tanah bengkok
  Tanah titisan
  Tanah pangonan
  Tanah lainnya


Umum
Perangkat Desa
Pembina RT/RW

-Luas Desa

-Sebelah utara

-Sebelah selatan
-Sebelah barat
-Sebelah timur
166.458 ha

Ds.Cangkuang

Ds.Ciuyah
Ds.Jatipiring
Ds.cibogo
- Sekertaris desa

- kepala Dusun
5 orang


4 orang
-Jumlah RT

-Jumlah RW
25 orang

6 orang

Kondisi Geografis
ORBITASI ( Jarak dari pusat pem.Desa)

- Ketinggian tanah dari permukaan laut

- Banyaknya curah hujan

- Fotografi (dataran rendah,tinggi)
24 mdl
 

9 bulan

Dataran rendah
- Jarak dari pusat Pem.kecamatan
- Jarak dari ibu kota kabupaten
- Jarak dari ibu kota provinsi
- Jarak dari ibu kota Negara
    6 km

 35 km

172 km

245 km

Pajak Bumi Masyarakat

- Jumlah wajib pajak
- Jumlah SPPT
- Ketetapan / Target
- Realisasi
1547 orang
1547 orang
Rp. 21.067.562
Rp. 21.067.562

Bidang Pembangunan

Agama
Kesehatan

Sarana Peribadahan
- Jumlah Masjid               1
- Jumlah Mushola            6
- Jumlah Gereja               -
- Rs.Pemerintahan
- Rs.Swasta
- Puskesmas
- Klinik
- Apotik

Perdagangan & Jasa
Perkoprasian

Perdagangan
Jasa
-Lumbung Desa
1

- Pasar desa
- Toko
- Warung
- Mini Market
-
10
50
-
- Bengkel
- Penjahit
- BANK
- Notaris
4
3
-
-

Pendidikan
Perumahan

Pendidikan Umum
- PAUD
- TK
- SD
- SMP
- SMK
- Akademi
- Universitas
- Madrasah
- Rumah permanen
- Rumah semi permanen
- Rumah non permanen
414 rumah
273 rumah
171 rumah

Peternakan

- Kambing
- Sapi biasa
- Kerbau
137 ekor
5 ekor
56 ekor

Perkebunan

-Tebu
41.284 ha

Sarana Olahraga
Pertanian Lingkungan hidup

- Lap.sepakbola
- Lap. Bola voly
- Lap.basket
1
1
-
1.Taman
Luas taman
Banyak tanaman
2. Kebersihan
Lokasi pembangunan


B.  Seni Budaya Desa Cisaat
Seni merupakan suatu karya yang dibuat atau diciptakan dengan kecakapan yang luar biasa sehingga merupakan sesuatu yang elok atau indah. Kebutuhan akan seni budaya merupakan kebutuhan manusia yang lebih tinggi diantara urutan kebutuhan lainnya. Seni budaya berkaitan langsung dengan kesejahteraan, keindahan, kebijaksanaan, ketentraman, dan pada puncaknya merupakan proses evolusi manusia untuk makin dekat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, seni budaya akan berkembang apabila masyarakat makmur dan sejahtera. Sei budaya merupakan suatu keahlian mengekspresikan ide-ide dan pemikiran estetika, termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi pandangan akan benda, suasana, atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah sehingga menciptakan peradaban yang lebih maju .
Adapun seni budaya desa Cisaat di antaranya :

Ø  Seni Burok
Ø  Berokan
Ø  Genjringan

1.Seni Burok
Seni Burok adalah salah satu kesenian rakyat yang sangat terkenal dan digemari di kalangan masyarakat Cisaat dan sekitar Cirebon. Menurut cerita seni Burok sudah ada sekitar tahun 1934. Awalnya ada seorang penduduk desa Kalimaro Kecamatan Babakan bernama Kalil membuat sebuah kreasi baru seni Badawang (boneka-boneka berukuran besar) yaitu berupa Kuda Terbang Buroq, konon ia diilhami oleh cerita rakyat yang hidup di kalangan masyarakat Islam tentang perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhamad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap yang disebut Buroq.adapun seni burok yang ada di cisaat “OJM”  yang di pimpin oleh pak Onih .
Selain dalam cerita rakyat, masyarakat Cirebon dikenalkan pula sosok Buroq ini dalam lukisan-lukisan kaca yang pada waktu itu cukup popular dan dimiliki oleh beberapa anggota masyarakat di Cirebon. Lukisan kaca tersebut berupa Kuda sembrani (bersayap) dengan wajah putri cantik berwajah putih bercahaya. Di dalam perkembangannya Genjring Buroq semakin digemari masyarakat, bahkan tersebar ke pelbagai daerah di luar Cirebon, seperti Losari, Brebes, Banjarharja, Karang Suwung, Ciledug, Kuningan, dan Indramayu.

Di Cisaat  pertunjukan Burok biasanya dipakai dalam beberapa hajatan, seperti Sunatan, perkawinan, dll. Burok biasanya dilakukan mulai pagi hari atau siang hari tergantung pesanan dai yang punya hajat lalu berkeliling kampung di sekitar lokasi hajatan tersebut. Selain boneka Buroq, ada juga boneka pengiring lainnya seperti Gajah, Macan, Kuda, Kera, dll., bahkan sekarang ada juga boneka Barongsai yang biasa kita saksikan dalam acara imlek.

Pertunjukan Burok dimulai dengan "Tetalu" lalu bergerak perlahan dengan lantunan lagu. Setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak dan semakin lama semakin meriah karena masyarakat boleh turut serta menari berbaur berjoged ria dengan para pelaku.

Dalam acara khitanan biasanya anak sunat dinaikan ke atas Burok dengan pakaian sunat lengkap dan nampak dimanjakan. Pada saat arak-arakan, lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu dangdutan dan tarling yang merupakan lagu ciri khas masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Musik pengiring Burok biasanya terdiri dari 3 buah dogdog (besar, sedang, kecil), 4 genjring, 1 simbal, organ, gitar, gitar melodi, kromong, suling, kecrek. Namun seiring perkembangan zaman doddog dan genjring sekarang sudah tergantikan oleh alat musik yang sudah modern yaitu drum. Alat-alat tersebut berfungsi sebagai pengiring tarian juga pengiring nyanyian. Nyanyian biasanya dibawakan oleh penyanyi pria dan wanita, kadangkala bergiliran tergantung dari karakter lagu yang dibawakan. Biasanya disini banyak orang yang minta lagu yang mereka sukai dengan memberikan saweran.

2.Genjringan
Setiap daerah mempunyai ciri khas masing-masing, baik dari segi makanan maupun dari segi yang lain seperti seni budaya. Salah satunya di Desa Cisaat mempunyai ciri khas di bidang seni dan budaya. Ciri khas seni budaya Cisaat ini adalah seninya dipengaruhi oleh nilai-nilai religi atau merupakan perpaduan nilai religi dengan nilai budaya lokal. Salah satu kesenian masyarakat Cisaat yang terkenal adalah genjringan. 
Genjringan merupakan seni menabuh rebana yang disertai dengan bacaan-bacaan sholawat.Genjringan ini biasa dipertunjukkan pada acara-acara tertentu, seperti penyambutan tamu, mengiring pengantin, acara khitanan, dan acara-acara lainnya yang sifatnya menghibur.
Selain bersifat hiburan, yang tak kalah pentingnya genjringan ini bernuansa dakwah atau syiar islam. Karena lagu-lagu yang dibawakan selama genjringan adalah bacaan-bacaan atau syair-syair sholawat nabi. Jadi, masyarakat diajarkan tentang nilai-nilai islam melalui seni yang menghibur. Memang luar biasa genjringan ini, selain menjadi media hiburan juga bisa menjadi media pengajaran.
Genjringan Cisaat ini sangat terkenal pada tahun 2011-2014


3.Berokan
Sejarah
Menurut tuturan riwayat yang diwariskan secara turun-temurun di kalangan senimannya, bengberokan adalah warisan Pangeran Korowelang atau Pangeran Mina, seorang penguasa laut Jawa di wilayah Cirebon dan Indramayu. Namun terdapat pula tuturan yang juga diwariskan di kalangan seniman berokan, bahwa berokan merupakan kreasi Mbah Kuwu Pangeran Cakrabuana, ketika menyebarkan syiar Islam ke wilayah Galuh, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali, menggunakan pertunjukan sebagai media syiar agama, ditujukan agar dapat mudah diterima lingkungan budaya pada saat itu.
Ada pendapat bahwa kata berokan berasal dari kata "barokahan" (keselamatan). Namun nampaknya keterangan tersebut hanya sebuah kirata (
bahasa Sunda, yang artinya dikira-kira namun tampak nyata), sebuah gejala yang umum terjadi di dalam penamaan jenis seni rakyat.
Bentuk kesenian
Bentuk berokan yang dekat dengan bentuk-bentuk mitis totemistik dari binatang seperti buaya, wajah raksasa, dll., menunjukkan adaptasi budaya tersebut.Pertunjukan berokan ini sangat populer di wilayah Cirebon dan Indramayu. Pada awalnya dilakukan sebagai bagian dari upacara ruwatan dalam menanggulangi pageblug (epidemi penyakit), menempati rumah baru, dll.Namun demikian, dewasa ini pertunjukan burokan lebih banyak dipakai dalam memeriahkan pesta khitanan atau perkawinan.
Bengberokan dimainkan juga pada upacara
Ngunjung Buyut, yaitu upacara untuk menghormati arwah leluhur di pekuburan desa-desa tertentu. Bengberokan merupakan kedok yang dibuat dari kayu, yang bentuknya mirip dengan buaya. Warna kedoknya merah dengan mata besar yang menyala, dengan mulut dapat digerakkan (dibuka–tutup) sehingga menghasilkan bunyi "plak-plok". Tubuhnya terbuat dari bekas karung beras yang dijahit sedemikian rupa sehingga mampu menutupi pemainnya, dan mengesankan tubuh binatang yang besar dan berbulu (ditambahi ijuk dan serpihan tambang), kemudian disambung kayu yang dibuat mirip seperti ekor dengan warna belang-belang merah putih, runcing sehingga ujungnya mirip ekor ikan cucut. Berokan biasanya dimainkan secara bergantian.
Pada umumnya para pemain berokan adalah laki-laki. Untuk melibatkan penonton, Berokan digerak-gerakan dengan lincah, kedoknya dimainkan seakan-akan mau mengigit penonton. Efek spontanitas ketakutan penonton (terutama anak-anak) dimanfaatkan oleh pemain Berokan untuk semakin garang dan menghibur.
Pertunjukan Berokan diawali dengan tetalu dan kidung dalam bahasa ibu (Indramayu atau Cirebon), dilanjutkan dengan tarian Berokan yang lambat, perlahan-lahan untuk kemudian menjadi naik turun dan bergairah. Pertunjukan Berokan akan lebih menarik lagi, jika dimainkan di atas pecahan kaca (beling) dan menari-nari di atas bara api. Apabila pertunjukan Berokan dikaitkan dengan upacara tertentu, biasanya dilakukan Kirab Sawan, yakni upacara penyembuhan atau untuk keselamatan dan keberkahan. Kirab Sawan dilakukan setelah sesajen dan persyaratan lainnya lengkap.
Musik pengiring Berokan sangatlah sederhana, terdiri dari
kendang, terebang, kecrek, dan bende (gong kecil) yang dimainkan oleh enam orang. Musiknya memang terasa monoton, namun demikian dinamika kadangkala muncul dari kendang dan kecrek, bersahutan dengan suara plak-plok dari kepala Berokan yang terbuka dan tertutup.


Makna
Ada beberapa makna yang dapat disimpulkan dari pertunjukan Berokan ini:
  • Makna mitis yaitu sebagai media penolak bala yang menjadi awal mula fungsi Berokan. Dengan mempertunjukan Berokan, dipercayai bahwa bala telah ditolak, dan dipercayai akan mendatangkan kebahagiaan.
  • Makna sinkretis karena Berokan digunakan sebagai media dakwah pada masa awal penyebaran syiar Islam di wilayah Cirebon.
  • Makna teatrikal karena Berokan beraksi menari, mengejar, dan memainkan kepalanya serta berbaur dengan spontanitas penonton yang merasa takut bercampur gembira
  • Makna universal, karena Berokan memiliki kemiripan bentuk dengan Barongsay dan Chilin dari Tiongkok, mahluk-mahluk naga dari Eropa Purba.
Namun sayang, seiring berjalannya waktu Berokan yang menjadi kebanggaan masyarakat Cisaat khususnya Cisaat Blok 1 ,dari tahun ke tahun meredup dan padam. Sekarang, Berokan yang merupakan kebanggaan masyarakat Cisaat hanya tinggal kenangan.

C.  Tradisi Islam
    Tradisi dalam kamus besar kontemporer berarti adat kebiasaan yang sifatnya turun temurun yang masih di laksanakan. Artinya  kebiasaan atau adat-istiadat yang masih di laksanakan dan ada di tengah masyarakat sampai sekarang. Karena sebelum islam datang telah ada adat kebiasaan masyarakat, maka terjadilah akulturasi budaya antara islam dan adta setempat. Hal ini yang menjadikan persebaran islam masih kental di warnai oleh adat dan kebiasaan masyarakat setempat.Ada juga tradisi islam yang ada di desa Cisaat,yaitu :
1.Tujuh Bulanan
Upacara tujuh bulanan adalah ritual adat-istiadat yang dilakukan dalam merayakan usia kandungan seorang ibu yang mencapai tujuh bulan. Dalam bahasa Jawa, upacara ini disebut mitoni, yang artinya suatu kegiatan yang dilakukan pada hitungan ke-7. Tujuan diselenggarakan upacara ini adalah agar embrio dalam kandungan dan ibu senantiasa memperoleh keselamatan sampai ia lahir kelak.
2.Tahlilan
Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.
Kata "Tahlil" sendiri secara harafiah berarti berizikir dengan mengucap kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" (tiada yang patut disembah kecuali Allah), yang sesungguhnya bukan zikir yang dikhususkan bagi upacara memperingati kematian seseorang.
Ritual/upacara ini (berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit, berzikir dan membaca sejumlah ayat Al Qur'an, kemudian mendoakan mayit), menurut berbagai sumber, bukan merupakan ajaran Islam. Bahkan, berdasarkan hadist, ritual ini diharamkan, apalagi jika ritual itu dirukunkan pada 1-7 hari, 40 hari, 1000 hari, atau dengan rukun-rukun lainnya. Ritual/upacara ini oleh beberapa ulama digolongkan sebagai bid'ah
Upacara tahlilan ditengarai merupakan praktik pada masa transisi yang dilakukan oleh masyarakat yang baru memeluk Islam, tetapi tidak dapat meninggalkan kebiasaan mereka yang lama. Berkumpul-kumpul di rumah ahli mayit bukan hanya terjadi pada masyarakat pra Islam di Indonesia saja, tetapi di berbagai belahan dunia, termasuk di jazirah Arab. Oleh para da'i pada waktu itu, ritual yang lama diubah menjadi ritual yang bernafaskan Islam. Di Indonesia, tahlilan masih membudaya, sehingga istilah "Tahlilan" dikonotasikan sebagai memperingati kematian seseorang.
Tahlil, takbir, tahmid dan tasbih pada dasarnya merupakan zikir yang sangat dianjurkan. Akan tetapi berkumpul-kumpul di kediaman ahli mayit, apalagi dirukunkan pada hari 1-7, 40 100, dan 1000, kemudian dijamu oleh ahli mayit, berdasarkan hadits adalah perbuatan haram.
Tahlil, takbir, tahmid, dan tasbih dapat dilakukan setiap hari. Yang dijamin makbul doanya bagi keselamatan mayit di akhirat adalah doa anak, yang juga dapat dilakukan setiap hari. Siapapun yang bukan anak mayit dapat pula mendoakannya, tetapi tidak harus berkumpul di rumah ahli mayit, dan tidak harus dirukunkan pada hari-hari sebagaimana diuraikan sebelumnya. 
3.Sedekah Bumi
Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berprofesi sebagai petani, nelayan yang menggantunggkan hidup keluarga dan sanak famil mereka dari mengais rizqi dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.
4.Puputan
Tradisi kelahiran dalam budaya Jawa salah satunya adalah Puputan. Upacara puputan bertujuan memohon keselamatan bagi si bayi. Perlengkapan upacara ini meliputi:

- Golongan bangsawan: nasi gudangan, jenang abang putih, lima macam bubur dan jajan pasar.

- Golongan rakyat biasa: nasi jangan, jenang abang putih, jenang baro-baro dan jajan pasar.
Puputan merupakan saat tali pusar bayi putus atau puput. Pada saat itu, diadakan Slametan Puputan Puser berupa kendhuri, bancakan dan pemberian nama bayi. Upacara ini diadakan setelah maghrib dan dihadiri oleh bayi, ibu, dukun, pinisepuh, dan sanak saudara.



============================================


Demikianlah postingan saya kali ini mengenai Demografi Desa Cisaat., semoga bisa bermanfaat bagi agan-agan sekalian yang membutuhkan. Dan bila ada kritik, saran, dan masukan, silahkan cantumkan di komentar.
Sampai berjumpa lagi di postingan saya berikutnya.!

Wassalamuallaikum Wr.wb,